Jumat, 02 Juli 2010

Bhikkhu Sangat Di Hormati Tetapi Tidak Di Tiru

Bhikkhu Sangat Di Hormati Tetapi Tidak Di Tiru



Bagi setiap umat Buddha, bhikkhu adalah figur yang sangat dihormati. Bhikkhu dianggap sebagai “simbol” dari kebajikan, simbol keluhuran Dhamma, dan tempat yang meminta nasihat. Kehidupan bhikkhu yang begitu sederhana, selalu berpijak pada peraturan kedisiplinan (vinaya) yang tinggi serta pengabdi yang tak mengenal pamrih ini benar-benar merupakan suri teladan yang sangat dihormati oleh setiap umat Buddha maupun anggota masyarakat yang lainnya.

Aturan-aturan kedisiplinan yang begitu ketat membuat kehidupan seorang bhikkhu menjadi sangat jauh dari segala bentuk kejahatan, tipu muslihat, kelicikan dan dengki. Mereka selalu berusaha untuk membasmi semua bentuk pikiran, ucapan dan perbuatan yang tidak baik dalam dirinya, dan selalu berusaha untuk membangkitkan nilai-nilai kebajikan dari dalam dirinya untuk kemajuan batinnya dan demi kepentingan masyarakat.

Mereka selalu memberikan bimbingan Dhamma, mencerdaskan umat Buddha agar bisa mengerti dan memahami Kebenaran yang diajarkan oleh Sang Buddha, membimbing kita semua agar selalu berjalan dalam Dhamma untuk mencapai kebahagiaan, serta selalu menjadi “kawan” terbaik yang bisa memberikan nasihat di setiap saat kita menghadapi berbagai problema kehidupan.

Oleh karena itu, seorang bhikkhu sangat dihormati oleh setiap umat Buddha. Dimanapun kita menjumpai satu atau beberapa orang bhikkhu, kita tak segan-segan untuk merangkapkan kedua tangan didepan dada – beranjali – sambil menundukkan kepala sebagai perwujudan rasa hormat yang mendalam. Bahkan tidak jarang kita membungkukkan badan, sehingga kepala menyentuh tanah untuk bernamaskara kepada seorang Bhikhu.

Begitu hormatnya seorang umat Buddha kepada bhikkhu, sehingga ia rela bersujud sampai kepala yang sangat dihormatinya itu menyentuh tanah. Umat Buddha sangat menghormati keteladanan yang telah ditunjukkan oleh para bhikkhu melalui praktek kehidupan yang sangat sederhana tetapi penuh dengan keluhuran.

“Bhikkhu memang sangat dihormati, tetapi bhikkhu sangat berbeda dengan guru. Kalau bagi masyarakat Jawa, “guru” itu digugu dan dituru, namun, seorang bhikku hanya digugu tetapi tidak ditiru.” Demikian petikan dari salah sebuah ceramah yang pernah disampaikan oleh Sri Pannavaro Sanghanayaka Thera, bhikkhu muda yang sangat mahir dalam membabarkan Dhamma.

Mengapa bhikkhu hanya digugu tapi tidak ditiru? Meskipun semua orang begitu menghormati bhikkhu, berapa persenkah diantara mereka yang mau meniru kehidupan seorang bhikkhu? Berapa orang diantara sekian juta umat Buddha di Indonesia yang bersedia menjadi bhikkhu? Bhikkhu memang dihirmati, disanjung dan bahkan disujuti, tetapi... masih terlampau sedikit umat yang mau “meniru” kehidupan bhikkhu.

Melepaskan Kebahagiaan Duniawi.

Banyak perbuatan baik yang bisa dilakukan oleh setiap orang. Misalnya berdana kepada mereka yang memerlukan, membangun rumah sakit, mengunjungi panti asuhan, menyokong ayah dan ibu, saling membantu jika ada yang menghadapi kesusahan, memaafkan kesalahan orang lain, dan lain-lain. Perbuatan-perbuatan bajik seperti ini sering kita lakukan dimana dan kapan saja.

Namun, ada satu jenis kebajikan yang mungkin akan sangat sulit dilakukan oleh setiap orang. Tidak semua orang dapat dan mampu melakukannya. Apalagi dalam zaman modern seperti sekarang ini, dimana setiap orang berusaha untuk memenuhi setiap keinginan untuk memuaskan diri pribadi.

Kebajikan yang sangat sulit dilakukan ini hanya dapat ditempuh dengan keinginan yang luar biasa kuatnya, keinginan yang bisa mengalahkan setiap ambisi. Keinginan ini sesungguhnya merupakan keinginan unuk mendapatkan sesuatu yang jauh lebuh besar dari apa yang bisa dicapai oleh mereka yang enggan menempuh kebajikan ini.

Apakah sesungguh perbuatan bajik yang sangat luar biasa ini?

Kebajikan ini tak lain adalah memutuskan semua keinginan duniawi, mengalahkan setiap godaan nafsu, untuk kemudian memasuki kehidupan sederhana yang sangat minim kebutuhannya – menjalankan kehidupan kebhikkhuan.

Tidak semua orang bisa melakukan kebajikan ini. Sebab terlalu banyak hal yang membelenggu dan mencegah umat manusia untuk memasuki dunia kebhikkhuan. Nafsu keinginan dan keterikatan pada hal-hal duniawi adalah faktor utama yang teramat sulit untuk dipatahkan.

Oleh karena itu, mereka yang mempunyai tekad yang kuat dan berhasil melangkah memasuki kehidupan kebhikkhuan, sesungguhnya merupakan orang-orang yang sangat gigih dan ulet dalam perjuangan moralnya. Orang seperti ini sangat langkah dalam dunia modern sekarang ini.

Dalam kitab suci Dhammapada ayat 103 tercantum sabda Sang Buddha:

“Walaupun seribu kali seseorang apat menakllukkan seribu musuh dalam satu pertempuran, namun orang yang bisa menaklukkan dirinya sendiri sesungguhnya merupakan penakluk terbesar.”

Setiap umat Buddha menyadari hal ini, sehingga mereka semua memberi hirmat yang sangat besar kepada setiap orang yang menjalankan kebhikkhuan. Mereka menghormati bhikkhu karena kemampuannya untuk melepaskan ikatan duniawi, karena kemurniannya dalam menjalankan peraturan hidup sederhana, dan karena bimbingan-bimbingan Dhamma yang diperoleh untuk menuju kebahagiaan.

Kegiatan Bhikkhu Sehari-hari.

Setiap bhikkhu memiliki kewajiban untuk mengembangkan batinnya sendiri dan membimbing dalam jalan yang benar. Di samaping melayani kebutuhan ritual, seorang bhikkhu harus tekun mempelajari Dhamma dan bermeditasi untuk mengembangkan kebijaksanaan, disamping menjalankan sejumlah peraturan kebhikkhuan.

Secara umum, corak kehidupan bhikkhu bisa dibedakan atas dua jenis, yaitu:

* Bhikkhu yang mengutama latihan yaitu para bhikkhu yan senang bermeditasi dihutan-hutan atau ditempat-tempat terpencil untuk mengembangkan kebijaksanaannya. Mereka umumnya hidup menyepi, jauh dari keramaian, dan hanya mengunjungi umat pada saat pindapata untuk menerima persembahan dana makanan.
* Bhikkhu yang mengutamakan pelayanan terhadap umat yaitu para bhikkhu yang hidup dalam lingkungan masyarakat. Ada yang menjadi guru agama, melayani kebutuhna umat untuk melakukan upacara ritual, menjadi penerjemah, ikut aktif dalam organisasi sosial keagamaan, dan lainlain.

Kedua kelompok bhikkhu ini mempunyai penekanan dalam praktik yang berbeda. Namun bukan berarti bahwa kelimpok yang satu tidak melayani masyarakat dan yang lainnya tidak pernah bermeditasi untuk mengembangkan batin. Kedua kelompok ini sama-sama harus melaksanakan praktik meditasi maupun pelayanan kepada masyarakat, hanya saja penekanannya berbeda.

Tak mungkin ada bhikkhu yang mengutamakan latihan kemudian hidup tanpa memerlukan umat. Ia tetap masih memerlukan partisipasi umat, dan ia masih tetap berkomunikasi dengan umat jika ada yang datang meminta nasihat kepadanya. Begitu pula, kelompok bhikkhu yang mengutamakan pelayanan kepada masyarakat pun harus memikirkan perkembangan batinnya. Ia harus tetap tekun menjalankan sila dan bermeditasi agar bisa tercapai cita-citanya sebagai bhikkhu.

Dalam sebuah vihara, biasanya terdapat semacam peraturan yang disepakati bersama oleh setiap bhikkhu sebagai jadwal kegiatan rutin. Pagi hari, biasanya mereka melakukan pembacaan paritta pagi dan melakukan meditasi sebelum tiba saat untuk sarapan pagi.

Setelah itu, para bhikkhu menerima umat/tamu, berbincang-bincang atau memberikan wejangan Dhamma. Ada bhikkhu yang memenuhi permintaan umat untuk membacakan paritta, ada pula yang belajar.membaca ajaran-ajaran Sang Buddha di perpusktaan, dan sebagainya.

Bhikkhu akan makan siang sekitar pukul 11-12 siang. Setelah berisirahat sebentar, para bhikkhu ada yangmenerima tamu, ada yang memberikan ceramah, ada yang mengajar di sekolah sebagai dosen, ada yang mengerjakan tugas organisasi, ada yang belajar Dhamma, dan lain-lain.

Menjelang malam hari, para bhikkhu kembali membacakan paritta senja dan melakukan meditasi. Malam hari biasanya para bhikkhu diundang untuk membacakan paritta di rumah-rumah duka, memberikan ceramah dalam kebaktian, dan sebagainya.

Pada setiap hari uposatha, para bhikkhu akan berkumpul di depan altar Sang Buddha di Uposathagara untuk mendengarkan pembacaan patimokkha (aturan kedisplinan), yang biasanya diawali dengan pemberitahuan atau saling meminta maaf atas pelanggaran-pelanggaran terhadap vinaya.

Sehari sebelum hari uposatha para bhikkhu melakukan dandakamma (mencukur rambut, kumis dan jenggot).

Bagi bhikkhu yang tinggal di kota-kota besar, kegiatan untuk melayani umat sering merupakan kegiatan terbanyak. Sebab tidak sedikit umat yang mengundang bhikkhu untuk kepentingan ritualnya, antara lain untuk pemberkatan rumah/usaha baru, menerima undangan makan, membaca paritta untuk orang sakit/ meninggal, dan lain-lain.

Disamping itu, tak jarang bhikkgu harus menjadi “pendengar” yang baik ats semua keluhan/penderitaan yang dialami oleh umat, kemudian berusaha untuk memberikan jalan keluarnya berdasarkan ajaran Sang Buddha. Entah disadari atau tidak, mayoritas umat Buddha pasti mengharapkan agar bhikkhu bisa membantunya untuk menyelesaikan semua permasalahan yang dihadapinya, baik itu persoalan keluarga, dagang, hubungan antar manusia, dan sebagaianya.

Perilaku Umat Terhadap Bhikkhu

Di dalam Sigalovada Sutta, Sang Buddha berkata kepada seorang pemuda yang bernama Sivali:

“Dengan enam cara seorang bhikkhu akan melayani umat”

1. Mencegah mereka berbuat jahat.
2. Menganjurkan mereka berbuat kebajikan.
3. Mencintai mereka dengan penuh kasih sayang.
4. Mengajar sesuatu yang mereka belum pernah dengar.
5. Memperbaiki dan menjelasskan sesuatu yang mereka pernah dengar.
6. Menunjukkan jalan ke Nibbana.

Dan, dengan lima cara seorang umat akan melayani para bhikkhu:

1. Dengan perbuatan yang penuh kasih sayang.
2. Dengan ucapan yang ramah tamah.
3. Dengan pikiran yang penuh kasih sayang.
4. Dengan selalu membuka pintu untuk mereka.
5. Dengan memberikan keperluan hidup mereka.

Sang Buddha mengajarkan tentang perilaku timbal-balik antara bhikkhu dan umat./ Setiap bhikkhu mempunyai kewajiban terhadap umat, dan setiap umat pun harus melaksanakan kewajibannya kepada bhikkhu. Cara hidup yang saling menguntungkan, saling bantu-membantu, dan saling menyokong ini hendalnya selalu kita terapkan.

Kesediaan bhikkhu untuk selalu melayani umat membuat para bhikkhu semakin dekat di hati umat. Suasana keakraban tercipta lewat keramahan para bhikkhu. Lambat laun hal ini membuat umat semakin terbiasa dengan kebiasaan para bhikkhu. Sehingga keakraban ini kadang kala membuat umat menjadi lupa diri. Tanpa disadari sering terlontar ucapan-ucapan yang tidak pantas untuk disampaikan kepada seorang bhikkhu.

Misalnya: kata-kata “guyonan’ yang seharusnya hanya diperuntukkan bagi teman sebaya, “Hei, Bhante.” “Dasarn, Bhante.” “Kesini dong, Bhante.” Dan masih banyak lagi contoh-contoh sapaan lain yang tapa sadar terlontar dari mulut umat yang akhirnya mengabaikan tata krama karena “merasa’ sudah cukup “akrab” dengan para bhikkhu.

Pernah suatu ketika, seorang ibu yang cukup lanjut usia datang ke sebuah vihara. Dengan muka yang cukup sedih dia masuk ke kuti. Kebetukan ada seorang bhikkhu di dalamnya. Dengan kesedihannya, ibu ini datang menghampiri bhikkhu seraya ingin memegang tangan bhikkhu untuk memberikans alam. Tentu saja bhikkhu ini buru-buru menghindar untuk mencegah “kontak” yang tidak perlu. Ketidak-tahuan membuat ibu ini berbuat demikian.

Ada lagi kasus lain yang pernah terjadi di sebuah vihara. Seorang gadis menelephon untuk minta bicara dengan seorang bhikkhu. Kebetulan bhikkhu itu tidak berada ditempat. Gadis ini denga kalimatnya yang cengene terus memaksaakan ingin bertemu dengan bhikkhu yang dicarinya.

Pantaskah tindakan ini bagi seorang umat yang menghormati bhikkhunya?

Disaat seseorang mengalami musibah, menghadapai persoalan atau mengalami depresi, seorang bhikkhu sering menjadi tempat untuk meminta bimbingan dan nasihat yang paling tepat. Umat yang demikian akan sering mengunjungi bhikkhu untuk berkonsultasi, dan bhikkhu pun akan selalu siap untuk membantu.

Lama kelamaan, umat akan semakin mengagumi bhikkhu. Ia akan melihat bhikkhu sebagai seorang insan yang sangat baik dan sangat bijaksana. Bhikkhu adalah orang yang penuh pengertian, yang bisa memahami kesulitan yang kita hadapi dan bisa membantu kita dalam suka dan duka.

Pandangan yang penuh kekaguman ini lambat laun akan berkembamng, berkembang, dan berubah, menjelam menjadi perasaan simpati, akhirnya berubah wujud menjadi “kemelekatan”. Beruntunglah kalau umat dan bhikkhu segera menyadari hal ini. Jarak tetap akan dijaga.

Namun, bagaimana kalau hal sebaliknya yang terjadi?

Bhikkhu pun Perlu Dukungan.

Hendaknya umat menyadari pengabdian seorang bhikkhu yang tanpa pamrih. Pelayanan bhikkhu terhadap umat seharusnya dibalas dengan perilaku yang baik dan sopan. Pengethuan umat tentang peraturan yang dijalankan oleh para bhikkhu mutlak diperlukan agar bisa membantu para bhikkhu dalam menjaga kemurnian sila.

Kelanggengan kebhikkhuan seseorang sangat diperlukan, baik oleh bhikkhu itu sendiri maupun oleh umat Buddha. Seorang bhikkhu perlu mempertahankan keteguhannya dalam menjalankan vinaya, agar cita-cita luhurnya bisa tercapai. Umat pun perlu mengusahakan agar setiap bhikkhu dapat hidup dengan layak, jauh dari segala godaan yang bisa mempengaruhi pratik kehidupan sucinya, sehingga para bhikkhu tetap bisa memberikan pelayanan ritual dan bimbingan Dhamma kepada kita semua.

Dengan sangat sulit untuk melepaskan ikatan keduniawian. Sangat sulit untuk melangkah memasuki dunia kebhikkhuan. Oleh karena itu, sangat langka bhikkhu yang baik di tanah air kita.

Dengan menyadari hal ini, dengan mengutamakan kepentingan orang banuyak, marilah kita ciptakan kondisi yang baik untuk seorang bhikkhu melaksanakan kehidupan sucinya. Mereka pun butuh dukunga moral dari setiap umat Buddha, sebagaimana kita membutuhkan bimbingan Dhamma dari mereka.

Sumber : Artikel Buddhis . http://www.facebook.com/group.php?gid=62042742642&ref=search#!/artikelbuddhis?v=wall

Jumat, 18 Juni 2010

Langit dan Bumi

Langit dan bumi adalah kekal,
Langit dan bumi kenapa bisa bertahan lama?
Karena kehadirannya tidak untuk diri-Nya.
Maka mereka mampu bertahan lama.
Orang bijak selalu menempatkan dirinya di belakang rakyat.
Maka dia bisa berada di depan rakyat.
Dia membuang kepentingan pribadinya di luar dirinya.
Maka dia mampu bertahan lama.
Karena tidak mempunyai kepentingan pribadi dia bisa berhasil.

Penjelasan :
Langit dan Bumi dari dulu sampai sekarang masih yg itu itu juga.. Kedua nya kekal. Kenapa bisa demikian? karena keberadaan kedua bukanlah untuk dirinya dan terus memberi kehidupan kepada semua ciptaan-Nya tanpa pamrih.

Orang bijak belajar dari perilaku alam semesta, berbakti kepada rakyatnya, memberi tanpa ingin meninggalkan bekas dan tidak memgharapkan balasan, dan selalu mementingan kepentingan rakyat. Itulah sebabnya dia mampu bertahan lama
dan mecapai keberhasilan yang gemilang. Walupun sudah banyak berjasa, dia tidak pernah menonjolkan diri dan menuntut balas jasa. Justru dengan demikian, jasa tidak akan lari dari dirinya.

Buddhisme Mendapatkan Penghargaan Sebagai Agama Berbaik di Dunia

Buddhisme Mendapatkan Penghargaan
Sebagai Agama Berbaik di Dunia


Sungguh menarik membaca bahwa Agama Buddha mendapatkan penghargaan sebagai 'Agama Terbaik di Dunia'.

15 Juli 2009, Tribun de Geneve

Koalisi International berdasarkan Jenewa untuk Kemajuan Agama dan Spiritualitas (The Geneva-based International Coalition for the Advancement of Religious and Spirituality- ICARUS) telah memberikan penghargaan kepada Komunitas Buddhis sebagai 'Agama Terbaik di Dunia' tahun ini.

Penghargaan khusus ini dipilih dalam suatu pertemuan internasional dengan lebih dari 200 pemimpin keagamaan dari semua bagian spectrum spiritual. Sangatlah mengagumkan untuk dicatat bahwa banyak pemimpin keagamaan lebih memilih Agama Buddha daripada agama mereka sendiri. Meskipun pengikut Buddha hanyalah sebagian kecil dari anggota ICARUS.

Berikut ini empat komentar dari anggota pemilih.

1.> Jonna Hult, Direktur Riset ICARUS mengatakan 'Tidaklah mengejutkan bagi saya bahwa Agama Buddha mendapatkan penghargaan sebagai Agama Terbaik di Dunia, karena kita tidak dapat menemukan satu kejadian perang pun yang dilakukan atas nama Agama Buddha. Dibandingkan dengan agama-agama lain yang sepertinya menyimpan sepucuk senapan dalam almarinya untuk dipergunakan apabila Tuhan membuat suatu kesalahan, kita bahkan sulit menemukan seorang umat Buddha yang pernah menjadi tentara. Orang-orang ini melaksanakan hal yang telah mereka ceramahkan sehingga kita tidak lagi bisa menyetarakannya dengan tradisi spritual lainnya.

2.>Seorang pastur Katholik, Romo Ted O`Shaughnessy mengatakan dari Belfast, "Sebagaimanapun saya mencintai Gereja Katholik, saya selalu terganggu karena kita mengajarkan cinta kasih seperti yang terdapat dalam kitab suci namun kemudian mengatakan bahwa kita menyatakan mengetahui kehendak Tuhan saat kita membunuh sesama manusia. Untuk alasan itulah saya harus menjatuhkan pilihan saya kepada Agama Buddha.

3.>Seorang pemimpin Muslim Tal Bin Wassad menyetujui dari Pakistan melalui penerjemahnya, "Meskipun saya seorang Muslim yang taat, saya dapat melihat sedemikian banyak kemarahan dan pertumpahan darah yang disalurkan sebagai ungkapan keagamaan daripada berhubungan dengan urusan pribadi."
"Umat Buddha telah memecahkan masalah itu", lanjut Bin Wassad, anggota ICARUS yang memberikan suara untuk kelompok Muslim Pakistan, "Sebenarnya, sebagian teman akrab saya adalah umat Buddha.."

4.>Rabbi Shmuel Wassertain mengatakan dari Jerusalem, "Tentu saja saya mencintai Agama Yahudi, dan saya pikir itulah agama terhebat di dunia. Namun, sejujurnya sejak tahun 1993 saya telah melaksanakan meditasi Vipassana setiap hari sebelum minyan (doa sehari-hari umat Yahudi). Jadi saya mengerti hal itu."

Bagaimanapun juga ada satu masalah, ICARUS tidak dapat menemukan seorang pun untuk menerima penghargaan itu. Semua umat Buddha yang mereka hubungi tetap mengatakan menolak penghargaan itu.

Ketika ditanya alasan kolompok Buddhis Birma menolak penghargaan tersebut, bhikkhu Ghurata Hanta mengatakan dari Birma,"Kita berterima kasih atas pernyataan tersebut, namun kita memberikan penghargaan itu untuk semua umat manusia, karena sifat keBudhaan berada dalam setiap diri kita."

Groehlichen kemudian berkata "Kita akan terus menghubungi semua fihak sehingga kita menemukan seorang umat Buddha yang mau menerimanya, Kita akan memberitahukan kepada Anda apabila kita telah menemukannya. "

Thx to : Sishi Devi

Rabu, 16 Juni 2010

Wat Pa Maha Kaew, Kuil Yang Dibangun Dari Jutaan Botol





Wat Pa Maha Kaew di Thailand, kuil yang dibangun dari jutaan botol aneka bentuk. Berawal dari tahun 1984 di mana pendeta pendeta buddha mengumpulkan botol botol unik untuk menghias kuil mereka. Botol botol yang terkumpul itu kemudian ditata ternyata menjadi pemandangan menarik.

Akhirnya diputuskan membangun kuil dari botol2 kolek
si yang jumlahnya demikian banyak, bentuk dan warnanya pun aneka macam. Keadaan ini kemudian mendorong para pengunjung kuil untuk ikut menyumbangkan botol botol miliknya.Dari jutaan botol yg terkumpul itulah akhirnya berhasil dibangun kuil berikut bangunan pendukungnya. Bahkan botol jugalah yang menjadi dekorasi utama di dalam kuil. Sungguh pemandangan unik dan menarik.Kuil unik ini berada Provinsi Siasaket, 370 miles sebelah utara ibukota Thailand. Konaon jumlah botol untuk pembangunan seluruh kompleks mencapai 1,5 juta botol. Termasuk ruang kaca, krematorium bahkan toilet pun terbuat seluruhnya dari botol.



Selasa, 15 Juni 2010

Ruang Sempit Hati Luas

Dengan wajah kusut seorang lelaki datang ke Vihara menemui seorang Bhikkhu tua, "Aku benar benar kacau!" ujarnya.

"Aku memilki 5 orang anak dan seorang istri sementara rumahku begitu sempit. Semuanya menjadi semakin kacau ketika ibu dan ayah mertuaku tinggal bersama kami, aku bahkan tidak bisa bernafas dirumahku sendiri..."

Bhikkhu tua yang bijaksana itu berpikir sejenak, lalu berkata, "Kalau begitu, belilah 5 ekor ayam lalu masukan ke rumahmu." Meski binggung dengan saran Si bhikkhu, lelaki itu lalu membeli 5 ekor ayam seperti nasihat bhikkhu dan memasukkannnya kedalam rumah. Esok harinya ia segera menemui bhikkhu tua lagi, kali ini wajahnya benar-benar tambah kusut. "Ayam-ayam itu berkeliaran ke sana- ke mari dan mereka berak dimana-mana, rumah kami semakin sempit dan kami tak tahan lagi dengannya."

Si bhikkhu tua hanya tersenyum lalu berkata,
"Apakah kau memiliki kambing?"
"Ya, aku punya 3 ekor kambing di belakang rumahku."
"Kalau begitu," Ujar Bhikkhu tua, "Pulanglah dan masukkan kambing itu bersama ayam-ayammu."
"Bhante (panggilan untuk bhikkhu) jangan bergurau?" ujar lelaki itu.
"Apakah kau lihat ada gurauan di wajahku?" balas si Bhikkhu.

Lelaki itu menggeleng. Meski kadang aneh, si bhikkhu tua bukanlah seperti orang kebanyakan, apa yang tersembunyi bagi kebanyakan orang, begitu terlihat jelas olehnya. Orang-orang mengatakan beliau adalah orang suci, siswa Buddha yang telah mencapai tingkat kesucian tertentu. Karena itu lelaki itu pun pulang. Lalu, meski dengan wajah binggung,ia memasukkan juga kambing-kambing miliknya ke dalam rumah.

Esoknya lelaki itu segera bergegas menemui Bhikkhu tua,"Aduh, bhante.Kami benar-benar tidak tahan lagi, semalaman kami tidak bisa tidur karena kambing-kambing itu menempati ranjang kami. Baunya membuat kami gila."

Seperti kemarin, si bhikkhu hanya tersenyum. "Pulanglah, sekarang kau boleh mengeluarkan semua binatang itu dari rumahmu."

Esok paginya giliran bhikkhu tua yang menemui lelaki tersebut dirumahnya.

"Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya si bhikkhu tua.
"Sekarang saya merasa senang sekali Bhante, saya tidak pernah menyadari bahwa rumah saya ini ternyata masih cukup luas, walaupun ada ibu dan ayah mertuaku." Sahut lelaki itu dengan wajah berseri.

Bhikkhu tua mendekati lelaki tersebut lalu berbisik, "selama ini memang bukan rumahmu yang kurang luas, tapi hatimu lah yang kurang luas dan bersyukur...."

Usia cuma angka !!

" Yo, loe sering bilang kalau cinta itu sebenarnya suci, dan cinta itu murni, ya kalo disingkat cinta itu suci lagi murni.....

"Loe ngomong apa sih,Led, gw nggak ngerti" potong Leo ketus."
"Gimana, loe mau ngerti, kalo omongan gue belom kelar udah dipotong." jawab led sewot.

"Oke, oke, kalo gitu loe terusin deh, loe mau ngomong apa sih sebenarnya, tapi to the point aja y, nggak usah muter-muter gitu, kenapa sih?" tawar Leo yang diangguki Led.

"Maksud gue, cinta itu nggak memandang apapun juga, cinta itu tidak melihat status, usia, fisik dan latar belakang atau apapun namanya,ya kan?"

"Yup, tepat banget kawan."

"Dan loe juga pernah bilang, cinta itu nggak pandang usia, nggak peduli tua muda, besar kecil, pasti bisa merasakan yang namanya cinta. Tapi permasalahannya, kalau kita sebagai cowok ternyata harus jatuh cinta sama orang yang usianya lebih tua dari kita atau sebaliknya, cewek yang menjalin kasih sama cowok yang jauh lebih muda, apa itu salah?'

"Siapa yang bilang?"

"Ya gue barusan, lagian loe ditanya malah balik tanya." Led menjawab sewot.

"Maksud gue pendapat itu nggak bener Led. Sama sekali nggak bener. Cinta ada di sini (sambil menunjuk dadanya) bukan di usia. Masalahnya bukan pada usia, tapi seberapa besar sih kasih sayang itu. Dan kalau kita memang lebih cocok sama orang yang lebih tua, kenapa nggak? Lagian khan tergantung kita yang ngejalanin. Usia itu khan cuma angka dan cuma deret hitung, nggak lebih. Satu hal lagi, usia nggak selamanya jadi tolak ukur kedewasaan seseorang. Berapa banyak coba orang-orang muda belia jauh lebih bijak, lebih dewasa dari orang tua sekalipun. Begitu juga sebaliknya, berapa banyak orang tua yang tingkahnya kayak bocah belasan tahun?"

"jadi gue gak salah dong kalau gue mencintai orang yang usia jauh lebih tua ketimbang gue?"

"Jelas, nggak. sebab hakekat sebuah hubungan adalah kecocokan, kebahagiaan dan kemampuan kedua pihak saling mengisi satu sama lain? So, nggak ada urusan berapa pun usia pasangan kita."

"Serius loe?"

"Kalo itu bikin loe seneng, bikin loe bahagia, kenapa nggak ? Lagian sampai detik ini nggak ada larangan untuk mencintai orang yang lebih tua atau lebih muda dari kita, ya kan?" kata Leo yang lebih menyakinkan Led yang masih penasaran.

"Bener nih?" tanya Led lagi, kali ini dengan sumringah.
"Ya, ampun, Led loe masih nggak ngerti ya omongan gue. Loe nggak ngerti bahasa indonesia ya?"

"Bukan nggak ngerti, cume gue nggak yakin aja. Sekali lagi gue tanya sama loe, nggak salah dong kalo gue mencintai orang yang usianya jauh di atas gue?"

"Nggak, nggak, nggak... !!! Puas?!!" kali ini Leo yang sewot.
"Yakin?"
"Banget!"
"Sekalipun yang gue cintai adalah..... nyo- kap- loe....!"
Kata Led terbata dengan rona wajah serius, nggak becanda. Beneran !

"Leo nggak menjawab, dia cuma bengong, lalu.... Brakk... ia jatuh pingsan!

Pingsan, sudah lebih dari cukup sebagai jawaban atas pertanyaan mengejutkan itu.

(Jadi, Led benar-benar lagi jatuh cinta sama ibunya Leo yang memang di kenal sebagai janda cantik lagi seksi di kampung mereka. Usianya 20 tahun lebih tua dari Led dan Leo. Namun, sekali lagi bukankah usia cuma angka?)











NB : nama2 di atas hanya samaran....
hehehehehehehe

Cinta hanya Kendaraan

Cinta hanya Kendaraaan

"Eh, Yo," ujar Led, "Gimana kalo ada orang yang baik banget sama gue tapi gue nggak cinta sama dia, apa gue mesti nerima cintanya?"
"Hmm.." guman Leo sambil terus mengetik artikel yang berjudul usia cuma angka.
"Yo, jawab donk!"
"Leo masih terus mengetik.
" Ugh.. ngetik kok kaya meditasi, sok serius!" pekik Led


Leo, menoleh, menatap led sambil berkata. "Gue justru lagi mikir! Pertanyaan loe tadi butuh pemikiran serius. Sebab masalahnya bukan cuma nolak atau nerima, tapi lebih dari itu!"
"Sok Bijaksana" sewot Led.
"Gue ngeliat apa yang loe nggak liat, gue berpikir apa yang gak terlintas dipikiran loe, karena itu gue tahu apa yang sama sekali loe nggak tahu. Karena itu pula loe selalu nanya ke gue, kan?"
"Weee... Kalo loe lebih tahu, ayo jawab!"
"Kalo gitu jangan loe terima cintanya! Sebab cinta hanya pantas dibalas dengan cinta, bukan dengan hati yang luluh oleh kebaikan atau hutang budi." jawab Leo.
"Tapi kebaikannya itu bener-bener bikin gue nggak tega kalo harus nolak cintanya nanti". sahut Led
"Dia baik sama loe karena rasa cintanya, sementara loe menerima dia bukan karena cinta di dada loe, tapi semata-mata karena rasa nggak enak telah menerima kebaikannya. Jadinya pasti timpang. Gimana kalo ditengah jalan nanti loe jatuh cinta sama orang lain? Apa loe berani jamin kebaikan dia bakal ngalahin rasa cinta loe terhadap orang lain, sehingga loe nggak bakal menghianatinya? Kalo ya, silahkan. Kalo nggak, lebih baik pahit diawal..."

"Led merenung sejenak. Matanya yang bulat jadi menerawang.
"Yo, bukannya kebersamaan akan melahirkan cinta?" ujar Led tiba-tiba.
"Bisa aja, tapi nggak melulu begitu. Bisa juga jadi sebaliknya, cinta melahirkan kebersamaan."
"Cinta melahirkan kebersamaan?"
"iya"
"Lho, cinta khan nggak harus memiliki? kalo nggak memiliki berarti nggak harus bersama donk, sementara gue udah bersama, padahal gue belom cinta sama dia."
Giliran Leo yang bengong. seperti sesosk patung yang yang terpajang di ruang sekretariat,hanya kepalanya yang berulang kali mangut-mangut.

"Tujuan cinta adalah kebersamaan, khan?" ujar Led algi.
"Tujuan cinta adalah kebahagiaan." Sahut Leo dengan sisa bengongnya.
"Gimana bisa bahagia kalo nggak bisa bersama? cinta tanpa bisa memiliki itu khan cuma bikin sakit hati."
"Memang begitu..." sahut Leo melemah...
"Kalo gitu, gue udah sampe tujuan donk?"
"Maksud loe?"
"Gue khan udah bisa bersama, meski gue belom cinta."

Leo makin nggak ngerti.

"Iya, tadi loe sepakat kalo tujuan cinta itu adalah kebersamaan. Nah, gue udah sampai tujuan, khan?

Kali ini Leo tersenyum. Seolah ada bolham menyala di ubun-ubunnya.

"Bener..bener itu, gue sepakat."ujar Leo.
"Kebahagiaan itu tujuan, sementara cinta hanya kendaraan untuk sampai kesana. So, kalo loe udah sampai tujuan, berarti nggak butuh lagi kendaraan. Tapi loe yakin bahagia sama dia?"
"Nggak ada kebahagiaan yang melebihi bahagianya orang yang duduk bersama seseorang yang begitu baik padanya."
"bener,bener itu."
"Jadi boleh nerima cinta dia karena kebaikannya?"
"Kalo alasan loe begitu, silahkan."
"Walaupun tanpa cinta di dada gue?"
"Ya, walaupun tanpa cinta, sebab, kebersamaan dan kebaikannya bakal jadi bibit yang menumbuhkan cinta di dada loe."

Led tersenyum. Hatinya kini benar-benar plong.
"Tapi tunggu!" ujar Leo tiba-tiba.
"Apa lagi?"
"Jangan-jangan loe cuma mau manfaatin kebaikannya dia, ya?"
Led mengerutkan kening.
"Emangnya salah?"
"Bukan cuma salah, tapi nggak bermoral!"
"Lho, dengan manfaatin kebaikannya itu justru gue berlaku adil. Dia memberi dengan ikhlas dan tulus, sementara gue juga menerima kebaikannya dengan ikhlas dan tulus pula.
"Adil banget, khan? Nggak cuma itu, kalo dua orang yang sama-sama ikhlas menyatu, pasti klop banget, Khan?"
"Klop? Memberi dengan ikhlas itu sulit, sebaliknya apa sulitnya menerima dengan ikhlas?" Leo jadi sewot sendiri.

"Jangan salah, Coy! Menerima dengan ikhlas dan tulus itu kenyataannya jauh lebih sulit dari pada memberi dengan ikhlas..." Jelas Led, "Soalnya apa yang kita berikan buat orang lain pasti cuma sebagian kecil dari yang kita miliki. Apa sulitnya sih ngikhlasin yang kecil itu?
Tapi kalo menerima dengan ikhlas, wuiiih sulit Coy! Sebab menerima dengan ikhlas dan tulus berarti loe harus menerima kenyataan bahwa nasib loe nggak lebih baik dari orang yang memberi..."
"Terlalu mengada-ada>" Potong Leo.
"Oke, sekarang gini, ngikhlasin duit satu milyar itu jauh lebih gampang dari pada mengikhlasin misalnya kematian orang tua kita secara mendadak!"
"Yaa..yaa... yang itu gue setuju....." ujar Leo tanpa tahu apa yang mesti di ucapkannya lagi.
"Nah, jadi boleh dongk gue manfaatin kebaikannya dia." Sahut Led sambil cekikikan.
"Dengan satu syarat."
"Apa?"
"Bagi Hasil!"


salam hangat,
Hati yang Hangat ;-)