Selasa, 15 Juni 2010

Dhamma VS Sabun

Pada suatu waktu ada seorang Bhante sedang naik mobil bersama seorang Pengusaha Sabun yang sangat terkenal... Pada saat mereka sedang jalan2 dengan mobil,, mereka berhenti di dekat lampu merah,, Dan ada seorang pencopet yang melakukan aksi'y,, Lalu si pengusaha berkata " lihat bhante,, dhamma yang engkau babarkan sudah tidak berguna lagi". " Memang kenapa??" tanya Bhante, " Tentu saja,, lihat masih banyak orang yang melakukan kejahatan dan semakin banyak ".. Lalu sang Bhante pun terdiam dan menjawab'y dengan seulas senyum,,

Lalu mereka melanjutkan perjalanan kembali,, Di tengah perjalanan turunlah hujan dan mereka behenti sejenak karena hujan tersebut sangat deras,, Lalu mereka melihat ke kiri dan ada sekelompok anak kecil sedang bermain bola di tengah lapangan yang berlumpur.. Kemudian,, Bhante berkata " Hai pengusaha,, sabun mu sudah tidak diperlukan lagi sekarang. " Mengapa demikian?? " tanya pengusaha. " Lihat,, mereka bermain di lapangan dan mereka sangat kotor, berarti sabun mu tidak berguna sekarang "..

Karena tidak mau kalah sang pengusaha pun berkata " Bukan'y tidak di pakai lagi,, tetapi mereka tidak mengenal sabun saya".. Dan Bhante berkata " Ya kau memang benar,, Jadi,, seperti hal'y Dhamma,, bukan tidak dibutuhkan lagi,, tetapi meraka belum mengenal Dhamma maka mereka berbuat kejahatan"

Dari cerita di atas dapat kita ambil kesimpulan bahwa,, Sabun mungkin dapat menghilang kan kotoran,, Namun Dhamma dapat menghilangkan Kotoran Batin,,

Papa... Kembalikan tangan Ita...

Ini kisah nyata yg lagi heboh di Malaysia sekarang, jangan lupa siapkan tissue karena bener-bener menyedihkan......Ingatlah.
...semarah apapun, janganlah bertindak keterlaluan..............

Ditujukan kepada semua orang tua,
Sebuah kisah untuk dijadikan pengalaman dan pengajaran......Sebagai ibu kita patut juga menghalangi perbuatan suami kita memukul. Khususnya pada anak-anak yang masih kecil dan tak tahu apa-apa. Mengajar dgn cara memukul bukanlah cara terbaik, mungkin sudah sampai waktunya untuk badan2 kebajikan educate org Malaysia untuk praktekkan konsep 'time out" jika anak2 buat salah.


Begini kisah nyatanya:

Sepasang suami isteri seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak untuk diasuh pembantu rumah ketika mereka bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan berusia tiga setengah tahun. Sendirian di rumah, dia sering dibiarkan pembantunya yang sibuk bekerja. Dia bermain diluar rumah. Dia bermain ayunan, berayun-ayun di atas ayunan yang dibeli papanya, ataupun memetik bunga matahari, bunga kertas dan lain-lain di halaman rumahnya. Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dia pun mencoret semen tempat mobil ayahnya diparkirkan tetapi karena lantainya terbuat dari marmer, coretan tidak kelihatan. Dicobanya pada mobil baru ayahnya. Ya... karena mobil itu bewarna gelap, coretannya tampak jelas. Apa lagi kanak-kanak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya. Hari itu bapak dan ibunya mengendarai motor ke tempat kerja karena ada perayaan Thaipusam sehingga jalanan macet. Setelah penuh coretan yg sebelah kanan dia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari si pembantu rumah.
Pulang petang itu, terkejutlah ayah ibunya melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan angsuran. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, "Kerjaan siapa ini?" Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah padam ketakutan lebih2 melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan 'Tak tahu... !" "Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?" hardik si isteri lagi.Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata "Ita yg membuat itu papa.... cantik kan!" katanya sambil memeluk papanya ingin bermanja seperti biasa. Si ayah yang hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon bunga raya di depannya, terus dipukulkannya berkali2 ke telapak tangan anaknya. Si anak yang tak mengerti apa-apa terlolong-lolong kesakitan sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya. Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan. Pembantu rumah terbengong, tdk tahu hrs berbuat apa?. Si bapak cukup rakus memukul-mukul tangan kanan dan kemudian tangan kiri anaknya.
Setelah si bapak masuk ke rumah dituruti si ibu, pembantu rumah menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar. Dilihatnya telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka2 dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiram air sambil dia ikut menangis. Anak kecil itu juga terjerit-jerit menahan kepedihan saat luka2nya itu terkena air. Si pembantu rumah kemudian menidurkan anak kecil itu. Si bapak sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah.
Keesokkan harinya, kedua-dua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu. "Oleskan obat saja!" jawab tuannya, bapak si anak. Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si bapak konon mau mengajar anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu tetapi setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. "Ita demam...
" jawap pembantunya ringkas."Kasih minum panadol ," jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Ita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lg pintu kamar pembantunya. Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Ita terlalu panas. "Sore nanti kita bawa ke klinik. Pukul 5.00 siap" kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan ia dirujuk ke hospital karena keadaannya serius. Setelah seminggu di rawat inap doktor memanggil bapak dan ibu anak itu.
"Tidak ada pilihan.." katanya yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena gangren yang terjadi sudah terlalu parah.
"Ia sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya kedua tangannya perlu dipotong dari siku ke bawah" kata doktor.
Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan. Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si bapak terketar-ketar menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari bilik pembedahan, selepas obat bius yang suntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga heran2 melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata.

"Papa.. Mama... Ita tidak akan melakukannya lagi. Ita tak mau dipukul papa. Ita tak mau jahat. Ita sayang papa.. sayang mama." katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya.
"Ita juga sayang Kak Narti.." katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuatkan gadis dari Surabaya itu meraung histeris.
"Papa.. kembalikan tangan Ita. Untuk apa ambil.. Ita janji tdk akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Ita mau makan nanti? Bagaimana Ita mau bermain nanti? Ita janji tdk akan mencoret2 mobil lagi," katanya berulang-ulang.

Serasa copot jantung si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung2 dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi, tiada manusia dapat menahannya.
*"jika tidak dapat apa yang kita suka...belajarlah utk menyukai apa yang
kita dapat.." *SoMeTiMeS GoOd PeOpLe Do EvIl ThiNgs....

Menyadari segala kekurangan sebagai kelebihan

Banyak orang yang tidak pernah puas, terhadap apa yang telah dimilikinya. Selalu merasa kekurangan, walau apapun yang diinginkan sudah terpenuhi tetapi sepertinya masih ada ketidakpuasan yang keluar dari mulut dan pikirannya.

Demikian Sang Buddha bersabda: ” Merasa puas, mudah disokong, sederhana hidupnya, tenang inderanya, berhati-hati, tahu malu, tak berbuat kesalahan walaupun kecil yang dapat dicela oleh orang yang bijaksana …”

Sabda Sang Buddha tidak menyatakan bahwa kita harus hidup menjadi orang yang pas-pasan, dan menjadi orang susah, tetapi mengingatkan kita untuk menyadari apa pun yang kita miliki, harus disyukuri, dan sadarilah bahwa kerja keras yang kita telah lakukan walau belum sempurna tetapi juga memiliki kemajuan, dan perkembangan dalam setiap hasilnya. Merasa puas dengan apa yang telah dikerjakan hari ini dan menetapkan rencana serta tujuan untuk hari esok, bentuk kepuasan ini bukan untuk menjadi sebuah ’kemunduran atau kepasifan’ melainkan untuk melangkah lebih maju lagi lebih kreatif, dan inovatif.

Definisi ’merasa puas dan mudah disokong’ lebih bersifat pada motivasi. Sang Buddha tetap berpegang pada Jalan Tengah, dimana kita tidak terlalu boros dan membuang-buang uang tanpa suatu alasan yang jelas dan manfaat bagi siapapun yang merasakan. Dan juga bukan menjadi orang yang selalu “haus’ akan sesuatu dan banyak ‘menuntut’ tanpa melihat situasi dan kondisi hidupnya.

Hal yang wajar untuk memenuhi kehidupan seseorang dalam level dan derajat yang ‘berada’, untuk memenuhi pola dan kebutuhan hidup yang jauh lebih baik, selama mereka dapat dengan bijaksana mengolah kekayaan mereka. Tetapi sangat tidak wajar bagi mereka yang hidup di bawah garis untuk menjalani kehidupan yang diluar batas kemampuan mereka.

Disini kita dihadapkan pada hukum sebab akibat yang berlaku. Untuk mendapatkan kemakmuran maka kita harus menjadi seorang dermawan, menjalankan sila dan bertindak benar. Kaya atau miskin semua orang dapat melakukannya. Siapa yang berbuat berdasarkan hukum sebab akibat ini, akan memperoleh kebahagiaan.

Marilah kita merenungi untuk melihat kekurangan kita sebagai kelebihan. Orang yang hidup sederhana, akan mendapati kehidupan yang tanpa beban, Ia lebih terbuka dan jauh lebih bersahaja. Harta bukan segalanya, tetapi dengan harta yang ada, dapat diberikan untuk berbagi pada sesama yang membutuhkan. Miskin juga bukan segalanya, karena semua itu hanya sementara. Bila memiliki semangat, daya juang dan gigih dalam bekerja dengan penuh cinta kasih dalam perjuangan untuk hidup, maka kebajikan itu akan menjadi pelindungnya dan bila waktunya telah tepat bagi buah karma baik untuk berbuah, maka perubahan hidupnya pun akan segera dirasakan olehnya. Kesederhanaan dan Kebersahajaan akan membawa kebahagiaan.

Ada sebagian orang yang memiliki cacat tubuh, tetapi bila ia melihat cacat tubuhnya ini sebagai kelebihan dirinya, Ia akan menjadi orang yang luar biasa. Berapa banyak sesuatu yang hampir mustahil dapat dilakukan oleh orang normal, tetapi dapat dilakukan oleh kaum cacat yang tercatat dalam rekor dunia. Juga berbagai prestasi ditunjukan oleh mereka yang ‘kurang’ tetapi memiliki banyak ‘kelebihan’. Ada 1001 cerita tentang hal ini yang sudah dijadikan film, buku, dan cerita motivasi.

Bagi orang yang penakut, bila rasa takut itu menjadi tembok besar bagi dirinya untuk berhubungan dengan orang lain, maka ia akan selalu menderita, dan dihantui oleh ketakutannya itu sendiri. Tetapi bila dapat mengatasi ketakutan yang negatif dan membuatnya menjadi positif tentu akan mengubah dirinya menjadi sebuah perkembangan ke arah hidup yang jauh lebih baik. Memilikilah ’takut’ untuk berbuat jahat, dan ‘takut’ akan akibat dari perbuatan jahat yang dilakukannya, inilah bentuk rasa takut yang positif yang akan menjadi kelebihan dirinya.

Lihatlah segala yang kita miliki, bersyukurlah dan teruskan perjuangan, Jangan banyak mengeluh dan lihatlah sesuatu dengan kaca mata yang positif, dengan menyadari kekurangan yang kita miliki dengan melihat sebagai sesuatu kekuatan untuk mengubahnya menjadi sesuatu kelebihan diri kita yang tidak dimiliki orang lain.

Jadi renungilah saat ini, buat daftar ‘kekurangan’ diri anda, lalu renungkan dengan hal yang positif, apa manfaat dari ‘kekurangan’ itu atau malah menjadi ‘kelebihan’ diri anda yang tidak dimiliki oleh orang lain. Ambil sikap positif untuk melihat semuanya… maka mana tahu anda akan menemukan permata yang tersimpan di dalam potensi dirimu….
Apapun itu hanya kau sendiri yang tahu….

Salam Mudita
BY: Neng Xiu

Mencari Jarum di Tumpukan Jerami

Mencari sebuah jarum ditumpukan jerami kata orang adalah sia-sia, butuh waktu panjang untuk menemukannya, dan mungkin juga jarum itu akan menusuk kita sendiri sewaktu mencarinya.
Tapi bagi orang tertentu tidak mudah patah semangat dalam mencari jarum di tumpukan jerami, ia mungkin akan mengunakan magnet berkekuatan besar, untuk mencari sebuah jarum yang jatuh itu.
Lucunya mungkin kita berpikir sebuah jarum yang kecil aja jatuh di tumpukan jerami ngapain cape-cape di cari? beli aja lagi yang baru... lagian itu mah orang jaman dulu kali yang punya kerjaan gitu makanya buat pepatah, "mencari jarum dalam tumpukan jerami". Kalo orang jaman gini mah jarum patah, jarum hilang beli lagi aja....nah inilah pola pikir orang jaman sekarang "jarum hilang ngapain dicari"

Perbedaan pandangan dan pola pikir ini kelihatannya biasa tapi kalo mau direnungi lagi ehh beneran luar biasa deh...... kok bisa luar biasa sih? coba kita uraikan yah...

Orang dulu sangat menghargai dan arti sebuah barang, walalu itu barang terkecil sekalipun. tidak mudah putus asa untuk mencarinya ketika hilang, apalagi sebuah jarum yang kalau tidak dicari dalam tumpukan jerami akan membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Betapa besarnya bentuk perhatian mereka terhadap hal-hal yang kelihatan kecil tetapi bisa berakibat besar dan fatal bagi diri sendiri dan orang lain.
Coba seandainya jarum itu karatan dan kena jari kita, jari kaki kita akan bengkak kena tetanus. makanya menyediakan waktu untuk mencari sebuah jarum yang jatuh, benda yang terlihat tidak berharga tetapi dapat membahayakan kita kelak.

Bila jarum diumpamakan sebagai suatu jawaban dari persoalan hidup, sudah rumitnya dan betapa susahnya diselesaikan dalam waktu yang singkat, maka orang dulu sangat sabar dalam menguraikan satu demi satu persoalan hidupnya. seperti menyibak jerami dan menyusunnya satu persatu, walau butuh waktu tetapi bisa terlihat hasilnya.

Bila jarum yang hilang diibaratkan sebuah cinta yang hilang, atau hilangnya orang yang kita cintai, maka orang dulu tidak akan pernah putus asa mencari mereka walalu menghabiskan banyak tenaga dan waktu demi untuk mencari cinta yang hilang, maupun saudara yang telah lama tidak kembali, dan bentuk cinta yang besar serta bentuk persaudaraan sangat amat berarti dari segalanya. tidak mudah tetapi ada usaha, dan begitu menemukan cinta yang hilang atau saudara yang hilang, akan sangat menghargai dan begitu sangat berarti. Kalau pada akhirnya tidak juga bertemu atau ketemu yah setidaknya sudah melakukan yang terbaik.

Bila sebuah jarum sangat diperlukan untuk menjahit sesuatu yang sobek, atau menjadi penyambung antara kain yang berbeda sehingga dapat dijadikan bahan baju, maka begitu jarum itu hilang mereka akan merasa hilangnya satu semangat dan kehilangan sesuatu yang berarti yang telah menemani mereka. Walau masih banyak jarum-jarum lainnya yang masih ada tetapi mereka tidak pernah akan lupa jasa sebuah jarum yang paling jelek sekalipun.

Tetapi walau seperti apapun perumpamaan diatas, ambil positifnya aja, karena kemelekatan yang kuat terhadap sesuatu barang juga tidaklah terlalu baik, asalkan dengan usaha yang telah kita lakukan dapat bermanfaat bagi kita tidak merugikan orang lain, dan dapat menumbuhkan kebijaksanaan dalam diri kita sendiri. hal ini tentunya akan bermanfaat.

lalu bagaimana pandangan kita semua yang hidup jaman sekarang ini terhadap "Mencari Jarum dalam Tumpukan Jerami?
tentunya masing-masing orang akan berbeda dalam menanggapinya?


Salam Mudita,
Neng Xiu

BELAJAR MELEPASKAN APA YANG MENJADI MILIK KITA

Sesuatu yang telah diberikan, kita pikir itu MILIK kita
sesuatu yang telah didapatkah, kita pikir itu MILIK kita
sesuatu yang diperoleh, kita pikir itu adalah MILIK kita
semua MILIK kita, PUNYA kita dan menjadi HAK kita

Tanpa kita sadari begitu kita terpisah darinya
begitu sakit rasanya…
begitu dalam penderitaannya…
begitu besar kehilangannya
begitu dalam jurang kesedihannya….

Ia datang tanpa diundang…
Ia pun pergi tanpa berbekas…
Ia yang datang dan pergi semua bukan milik kita
dan tidak perlu kita menderita karena melekatinya

selagi bersama, bahagialah
selagi memiliki, hargailah
selagi ada, rasakanlah

sewaktu berpisah, kenanglah
sewaktu pergi, relakanlah
sewaktu kehilangan, lepaskanlah.

Saat jodoh telah berakhir, relakanlah, lepaskanlah...
Setiap orang terlahir di dunia ini dengan tangan kosong.
Ketika perannya berakhir,
sampai di sanalah skenario kehidupannya.

BY: Sakya Sugata

LEPASKAN

Alkisah ada seorang jutawan memiliki vas antik yang tak ternilai harganya, suatu ketika putra jutawan yang masih kecil ini melihat didalam vas antik tersebut ada uang kepingan kecil, lalu hatinya tergerak untuk mengambilnya, ketika sang anak itu hendak mengeluarkan tangannya dari vas antik itu, apa yang terjadi ? tangan nya tersangkut di mulut vas antik itu tidak bisa keluar, sekeluarga panik, si bapak jutawan ini tidak rela vas antiknya dipecahkan, bahkan terpikir mau memotong tangan anaknya, tak lama datanglah seorang tamu yang bijaksana, lalu orang bijak itu berkata secara lembut kepada anak itu : " hai, anak, coba kamu lepaskan uang kepingan itu dari genggaman tanganmu." eh, apa yang terjadi, sesaat itu juga tangannya terlepas dari mulut vas antik itu, karena genggaman tangan anak itu menjadi gumpalan besar sehingga tangannya tidak bisa keluar dari mulut vas antik itu semula.

kita sering menggenggam sesuatu yang tidak bernilai harganya, bahwa tidak mau melepaskannya seperti anak kecil, kita sering kali lupa bahwa ada sesuatu yang lebih berharga di sekeliling kita.

ORANG TUA HIDUP SEPERTI BOLA ????

Ada pepatah cina yang sangat menarik untuk direnungkan; “Orang Tua Hidup seperti Bola”. Dimata anak kecil orang tua seperti BOLA BASKET, dimana bola basket akan selalu diperebutkan oleh dua team yang bertanding dan berusaha mempertahankan bola yang didapatkannya dengan mengatakan (“My Ball” atau “Ini Bolaku”) jangan rebut bolaku. Sedemikian pentingnya orang tua di mata anak kecil. Anak-anak akan selalu berusaha menarik perhatian dari orang tuanya.

Disaat orang tua bertambah tua, dan anak-anak mulai memiliki tanggung jawab untuk merawat orangtuanya: Anak kedua mengatakan sebaiknya Anak sulung yang wajib merawat orangtuanya, dan si Sulung akan merasakan Si Bungsu yang lebih ‘disayang’ orangtuanya yang harus memperhatikan mereka. Sesungguhnya orangtua tidak pernah pilih kasih pada anak-anaknya, akhirnya si Bungsu pun mengungkapkan keberatannya dan mengatakan bahwa merawat orang tua adalah tugas dari setiap anak-anaknya, jadi harus ‘adil’ dan ada pembagian tugas, akhirnya dibuatlah “Jadwal rawat inap orang tua”. Orangtuanya bergilir setiap satu bulan sekali di rumah anak-anaknya. Dalam kondisi ini orang tua seperti BOLA VOLLEY, yang ‘dipassing sini , over sana, passing sana over sini’. Bila saja anak-anaknya tulus maka permainan bola volley akan sangat indah di tonton. Tetapi bila anak-anaknya tidak tulus dan mereka beban maka permainan ini akan terlihat sengit dengan pola main yang cepat plus SMASH…. Sini SMASH sana…

Ketika orang tua memiliki penyakit dan dimana anak-anaknya sibuk dengan pekerjaan dan bisnis, dimana sedikit waktu untuk orangtuanya, merasa tanggungan orang tua yang semakin berat dan sangat melelahkan. Dalam kondisi ini orang tua ibarat BOLA SEPAK yang semakin jauh tendangannya semakin bagus. Artinya adalah Bola sendiri tidak akan dibiarkan ada dikandang sendiri, tentunya diusahakan untuk ditendang masuk kandang orang lain. Sekarang ini Panti Jompo dan Rumah Sakit tertentu menyediakan perawatan untuk orang tua. Jaman sekarang UANG memegang peranan penting dibanding sentuhan dan kasih sayang. Berapa Lansia yang mengeluh bahwa keuangan mereka sangat terjamin disaat renta, tetapi mereka tidak membutuhkan itu, karena matipun tidak bawa uang tetapi sentuhan dan perhatian anak-anak dan cucu jauh lebih berarti dari segalanya. Mereka butuh teman bicara dan sharing pengalaman, tentunya mereka butuh kalian! Mereba butuh sentuhan kasih sayang......

Tentunya di dunia ini tidak ada satu orang tuapun yang ingin menjadi bola volley apalagi bola sepak, bila saja orang tua memiliki pandangan yang benar dan tabungan kebajikan, memilki pengetahuan yang luas, penuh kebijaksaan dan kasih sayang, apalagi tentunya memiliki “deposito atau warisan” yang cukup, sudah dapat diduga pasti orang tua akan seperti BOLA RUGBY yang oleh anak-anaknya akan selalu dipeluk erat-erat, dipertahankan dan selalu dijaga ketat pertahanannya, walaupun harus bergulat dan berguling dengan mereka yang ingin merebut Sang Bola. Siapa yang mendapatkannya tentu tidak akan melepaskannya. Sifat yang baik dari permainan ini adalah setiap anak pasti akan menjaga dan merawat orang tuanya sampai mereka meninggal dunia dengan tulus dan bermain cantik. Permainan akan menjadi brutal dan kasar apabila anak-anak mereka hanya berebut warisan dan deposito yang ada di kantong orang tuanya, sehingga akan berusaha menjaga orang tua dengan motivasi lain.

Inilah satu ulasan dari cerita yang sangat sesuai dengan keadaan sekarang ini yang semakin hari semakin menyedihkan, semakin maju jaman dan canggihnya sarana serta prasarana semakin mundur mentalitas manusia. Untuk itu Ajaran Kebenaran dan Pedoman Hidup Benar sangat diperlukan untuk menolong mereka yang hampir tersesat dalam arus kehidupan yang hingar bingar ini.

Semoga cerita ini dapat memberikan satu wawasan baru tentang keadaan yang sudah semakin instant dan perubahan pola hidup dan bentuk perhatian yang semakin bergeser...

Salam Mudita,
Neng Xiu